Alih-Alih Donald Trump Menyatakan Kemenangan,Justru Yang Terjadi Se Baliknya,Perang Seperti Membuka Bab Baru
Surabaya,-CyberNusantaraNews, Dua puluh empat jam lalu, Donald Trump berdiri di hadapan kamera dan menyatakan satu kata yang selalu terdengar indah di telinga politik: “Victory.” Kemenangan.
Sebuah kata yang biasanya diucapkan ketika perang telah selesai, ketika senjata berhenti, dan ketika orang-orang kembali ke rumah.
Namun dunia tampaknya tidak membaca naskah yang sama.
Dalam waktu kurang dari satu hari setelah deklarasi kemenangan itu, justru yang terjadi adalah sebaliknya: perang seperti membuka bab baru.
Iran mengumumkan pemimpin tertinggi baru, sebuah tanda bahwa negara itu tidak sedang runtuh, tetapi justru bersiap memasuki fase berikutnya.
Di sisi lain, Israel kembali dihantam gelombang rudal balistik, bahkan Bandara Ben Gurion yang menjadi simbol mobilitas dan ekonomi negara itu ikut terkena serangan.
Konflik pun melebar seperti tinta yang tumpah di peta Timur Tengah.
Pangkalan militer Amerika di Kuwait dihantam, termasuk Al-Udairi helicopter base, depot bahan bakar, hingga bangunan komando.
Serangan juga menyasar instalasi strategis di Bahrain, dari pangkalan angkatan laut Amerika hingga fasilitas energi milik BAPCO dan bahkan pabrik desalinasi air.
Di Arab Saudi, laporan awal menyebut dua orang tewas akibat serangan baru.
Di Dubai, kawanan drone dan rudal menghantam berbagai titik, termasuk kawasan Marina yang selama ini dikenal sebagai simbol kemewahan dan stabilitas Teluk.
Sementara itu Qatar dilaporkan terkena serangan rudal balistik,
Hezbollah terus meluncurkan drone dan rudal ke Israel dari Lebanon,
dan kelompok milisi Irak mulai menargetkan pangkalan Amerika, bandara yang dikuasai AS, serta jaringan yang mereka tuduh terkait CIA dan Mossad.
Jika semua itu terjadi setelah deklarasi kemenangan, maka pertanyaannya sederhana:
Kemenangan bagi siapa?
Dalam sejarah perang modern, kemenangan jarang ditentukan oleh pidato.
Ia biasanya ditentukan oleh satu hal yang jauh lebih sederhana: apakah tembakan sudah berhenti.
Jika rudal masih terbang, drone masih berdengung, dan pangkalan militer masih terbakar, maka satu kata yang diucapkan di podium tidak akan mengubah realitas di lapangan.
Perang tidak berakhir ketika seseorang berkata “menang”.
Perang berakhir ketika tidak ada lagi yang perlu membalas.
Dan melihat daftar kejadian hanya dalam 24 jam terakhir, dunia mungkin sedang menyaksikan sesuatu yang jauh dari akhir.
Mungkin ini bukan penutup.
Mungkin ini baru bab berikutnya.

