Tangisan yang Tak Pernah Terdengar: Bayi di Asemrowo

SURABAYA,-CyberNusantaraNews, Jumat siang itu, menjelang waktu salat Jumat, suasana di tepian sungai kawasan Jalan Raya Asemrowo mendadak berubah. Warga yang semula sibuk dengan aktivitas harian, tiba-tiba digegerkan oleh penemuan sebuah kantong plastik yang berisi jasad bayi laki-laki. Kehadiran sosok mungil itu, yang seharusnya menjadi simbol kehidupan baru, justru hadir dalam diam dan tragis.

Seorang warga yang pertama kali melihat bungkusan itu tak menyangka akan menemukan sesuatu yang begitu memilukan. Dalam hitungan menit, kabar menyebar cepat. Puluhan orang berkerumun, sebagian menutup mulut menahan tangis, sebagian lain menggelengkan kepala tak percaya. “Kasihan sekali, bayi itu bahkan belum sempat merasakan dunia,” ujar seorang ibu yang menyaksikan evakuasi.

Petugas BPBD Kota Surabaya bersama Tim Inafis Polrestabes segera datang. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD, Linda Novanti, menyampaikan bahwa bayi tersebut diperkirakan baru berusia dua hari. “Usia jenazah sekitar 48 jam. Diduga bayi ini baru lahir sebelum ditemukan dalam kondisi meninggal,” katanya dengan nada berat.

Jenazah kemudian dibawa menggunakan ambulans PMI menuju kamar jenazah RSUD dr. Soetomo. Di sepanjang jalan, warga masih berdiri, sebagian menundukkan kepala, seakan memberi penghormatan terakhir bagi kehidupan yang terhenti terlalu cepat.

Peristiwa ini bukan sekadar catatan kriminal. Ia adalah cermin getir tentang betapa rapuhnya perlindungan terhadap anak-anak yang baru lahir. Di tengah hiruk pikuk kota besar, ada bayi yang tak pernah sempat mendengar suara ibunya, tak pernah merasakan pelukan hangat, dan tak pernah diberi kesempatan untuk tumbuh.

Polisi kini menyelidiki siapa orang tua bayi tersebut dan bagaimana jasadnya bisa berakhir di bantaran sungai. Namun bagi warga Asemrowo, kejadian ini meninggalkan luka batin yang dalam. “Kami berharap ada keadilan. Jangan sampai ada lagi bayi yang dibuang seperti ini,” ungkap seorang bapak dengan mata berkaca-kaca.

Kisah tragis ini menjadi pengingat bahwa setiap kehidupan, sekecil apa pun, berhak untuk dijaga. Bayi mungil di Asemrowo mungkin tak pernah menangis, tapi kehadirannya telah membuat satu kota terdiam, merenung, dan bertanya: sudahkah kita benar-benar peduli?… ( Mul )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *